. Pengertian, Latar belakang dan Dampak Globalisasi | Pengertian Pakar

Pengertian, Latar belakang dan Dampak Globalisasi

Pengertian Pakar
 
Pengertian Globalisasi adalah suatu proses terjadinya perubahan yang mendunia, dimana terjadi penyebaran unsur unsur yang baru khususnya pada dunia informasi melalui media cetak dan elektronik.
 

Menurut Bahasa globalisasi terdiri dari 2 kata, yakni global dan sasi. Global yaitu mendunia, sedangkan sasi yaitu proses. Jadi, menurut bahasa Pengertian Globalisasi merupakan suatu proses yang mendunia.

 
Menurut Malcon Waters, Pengertian Globalisasi adalah suatu proses sosial yang berdampak pada pembatasan geografis dalam keadaan sosial budaya menjadi kurang penting, yang diaplikasikan di dalam kesadaran manusia.
 
Pengertian Globalisasi yang dikemukakan Achmad Suparman ialah suatu proses yang menjadikan sesuatu benda atau perilaku sebagai bagian dari ciri dari setiap individu di dunia tanpa dibatasi oleh wilayah atau negara.
 
Dari pengertian globalisasi di atas, dapat disimpulkan bahwa Pengertian Globalisasi adalah suatu proses dimana antara individu atau kelompok yang dapat menghasilkan suatu pengaruh terhadap dunia.
 
 
| Latar Belakang Globalisasi dan Dampak Globalisasi | Era globalisasi dimulai pertengahan 1980 yang dipelopori oleh negara ekonomi maju seperti beberapa negara anggota Uni-Eropa, Amerika Serikat, dengan asumsi bahwa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat internasional terutama negara miskin diperlukan pembebasan regulasi (pengaturan) yang dianggap menghambat masuknya investor asing. Tanpa adanya hambatan dan masuknya investor asing ini diharap dapat meningkatkan daya beli masyarakat negara miskin, sehingga dapat mencapai standar hidup yang layak.
 
Tiga pilar penting globalisasi, yaitu : (1) perlindungan hak atas kekayaan perorangan, (2) konsentrasi pasar dan (3) persaingan sehat. Semua ini merupakan prasyarat keberhasilan suatu negara memasuki era globalisasi. Ketiga pilar globalisasi tersebut menggambarkan ciri peradaban baru abad ke-20 di mana negara telah dijauhkan campur dari campur tangan terhadap pengelolaan kehidupan rakyatnya terutama di bidang perdagangan. Begitu pula di bidang hukum, telah diperkenalkan dengan perlindungan hak asasi tersangka atau terdakwa sejak diadopsinya konvenan internasional hak sipil dan politik (1996).
 
Tata kelola perdagangan dan bisnis dalam kacamata globalisasi sebagai suatu sistem diharapkan terhadap suatu kontrol mutlak dunia oleh kekuatan ekonomi supranasional melalui deregulasi pasar. Kekuatan pasar merupakan mekanisme di mana korporasi transnasional mengembangkan dan meluaskan jaringannya ke seluruh negeri sampai pada tingkat daerah untuk menguasai tanah, air, minyak, budaya, kesehatan, pendidikan, informasi, keuangan dan juga perbankan.

Gelinas membedakan globalisasi dalam tiga jenis sebagai berikut :

 
1. Globalisasi sebagai sistem
Globalisasi sebagai sistem menciptakan integrasi (pembauran) secara meluas di bidang jaringan produksi. Dampak globalisasi sebagai suatu sistem ialah melakukan perampasan teknologi, etika dan budaya melalui penanaman modal langsung dan tidak hanya mengubah hubungan antarnegara, melainkan juga berdampak terhadap ruang ekonomi domestik dan iklim budaya suatu negeri.
Korporasi transnasional berkeinginan secepat mungkin melakukan perubahan dan menjauhkan negara menurut konsep globalisasi yaitu melindungi kekayaan individu, memelihara ketertiban masyarakat dan menjamin ketentuan perundang-undangan di bidang infrastruktur.
 
2. Globalisasi sebagai suatu proses
Globalisasi sebagai suatu proses merupakan serangkaian tindakan untuk mencapai suatu proses integrasi yang mendunia melalui keharusan untuk berkompetisi menekan global tetap dan terus menerus melakukan restrukturisasi, rasionalisasi dan meningkatkan kinerja berulang-ulang, di mana sumber keuangan dan teknologi ditingkatkan secara signifikan. Agenda tetap korporasi transnasional adalah kewajiban untuk melakukan eliminasi, merger, penggabungan dan pengambilalihan korporasi domestik.
Dampak globalisasi sebagai suatu proses telah mengakibatkan keuangan internasional yang tidak dapat diprediksi dan diawasi yang meneggelamkannya ke dalam keadaan keterbelakangan. Kondisi ini mengakibatkan proses globalisasi berlangsung tanpa hambatan. Para ahli mengestimasi bahwa jika merger (penggabungan) dan pengambilalihan berlangsung terus dengan tingkat presisi yang terus menaik maka suatu megaholding yang sangat menguntungkan dan bebas dari konflik persaingan usaha.
 
3. Globalisasi sebagai ideologi
Globalisasi sebagai ideologi merupakan suatu konsep kerangka pemikiran, padangan dan gagasan yang menentukan sifat dari kebenaran dalam suatu masyarakat tertentu. Peranan sebagai suatu ideologi adalah menjustifikasi (alasan atau pertimbangan) penetapan sistem politik dan ekonomi dan menyebabkan masyarakat menerima sebagai satu-satunya konsep yang sah, dihargai dan sangat dimungkinkan.
Dampak globalisasi sebagai ideologi adalah membangun suatu pandangan baru yang mengenyampingkan nilai-nilai universal dan standar perilaku dan jika sistem berpikir ini diterima masyarakat maka mereka merasa tunduk pada rezim globalisasi sebagai hasil dari penilaian dan kesadaran mereka sendiri. Peranan ideologi dalam masyarakat modern sama dengan agama atau mitologi pada masa lampau. Bahaya ideologi ini ialah kenyataan bahwa mereka terbebas dari ideologi lainnya.
 
 
Pandangan Gelinas di atas berbeda dengan pandangan Stiglitz, yang masih meyakini bahwa globalisasi justru membantu masyarakat dunia menikmati kesejahteraan. Dampak globaliasi menurut Stiglitz yaitu keuntungan melalui iklim kompetitif dan pembebasan regulasi sehingga meningkatkan daya beli masyarakat akan produksi asing dengan harga murah, jauh dibandingkan dengan daya beli di masa sebelum terjadinya globalisasi. Bahkan menurut Stiglitz, globalisasi telah mengurangi perasaan keterasingan negara berkembang dan telah memberikan kesempatan rakyat di negara berkembang untuk mengakses pengetahuan yang luar biasa sekalipun bagi negara kaya, hal tersebut telah terjadi pada beberapa abad yang lampau.
 
Stiglitz memberikan pandangan dan kritik berbeda dengan Gelinas, selain menyatakan optimisme peranan globalisasi dalam konteks kesejahteraan bangsa, ia juga menghawatirkan perkembangan arah globalisasi yang masih diliputi oleh kepentingan politik negara maju yang bercokol di IMF dan Bank dunia. Stiglitz mengemukakan bahwa, globalisasi telah tidak menetapi janjinya untuk menciptakan stabilitas dan mengurangi kemiskinan. Hal ini terjadi disebabkan karakter negara maju yang hipokrit di mana mereka menekan negara miskin untuk menghapuskan hambatan perdagangan, akan tetapi disisi lain mereka tetap menerapkan larangan ekspor negara miskin atas beberapa produksi hasil pertanian, sehingga menghapuskan harapan negara miskin untuk memperoleh devisa dari ekspor tersebut.
 
Stiglitz mengatakan bahwa globalisasi saat ini tidak bekerja bagi banyak orang miskin di dunia. Hal ini tidak bekerja untuk banyak lingkungan. Hal ini tidak bekerja untuk stabilitas ekonomi global. Transisi dari komunisme ke ekonomi pasar telah begitu buruk dikelola bahwa, dengan pengecualian dari China, Vietnam, dan beberapa negara Eropa pembuang, kemiskinan telah melonjak sebagai pendapatan telah menurun drastis.
 
Disisi lain Stiglitz mengemukakan bahwa, tidak relevan lagi memperdebatkan tentang “pro” dan “kontra” globalisasi, karena harus disadari bahwa dampak positif globalisasi yaitu hampir separuh dari manusia di Asia terintegrasi ke dalam suatu ekonomi global. Masalah globalisasi sesungguhnya terletak pada bagaimana manajemen globalisasi itu sendiri. Terhadap pernyataan Stiglitz tersebut adalah bahwa ternyata manajer globalisasi itu ialah negara maju dan kekuasaannya dalam bidang ekonomi internasional yaitu negara maju yang memiliki posisi kuat secara geopolitik, ekonomi dan sosial yang lebih tinggi daripada negara berkembang. Posisi ini sangat ditentukan oleh posisi kekuatan ekonomi nasional yang ditandai oleh PDB dan pendapatan nasional perkapita negeri yang bersangkutan.
 
Merujuk kepada pendapat Stiglitz dan Gelinas di atas dapat dikemukakan bahwa kedua pandangan tersebut bertolak belakang. Gelinas melihat globalisasi dari sudut padang ideologi kapitalisme dan liberalisme ekonomi, dimana dampak globalisasi justru menimbulkan kesengsaraan rakyat dan mengakibatkan ketimpangan yang signifikan antara yang kaya dan miskin. Adapun Stiglitz memandang globalisasi sejatinya sejatinya berusaha meningkatkan kehidupan di negara miskin melalui deregulasi, dimana dampak globalisasi yang terjadi yaitu ketimpangan dan inkonsistensi kebijakan sistem ekonomi dan keuangan serta perdagangan dari negara maju terhadap negara miskin. Pola kebijakan ini justru tidak memberikan nilai tambah pada kemakmuran rakyat di negara berkembang, akan tetapi sebaliknya memiliki dampak negatif globalisasi yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dan sosial serta menambah buruknya penyelenggaraan pemerintahan di negara berkembang diperparah oleh meningkatnya korupsi, suap dan nepotisme di kalangan birokrasi.
 
Pandangan kedua ahli globalisasi yang berasal dari aliran kiri dan kanan tersebut dikaitkan dengan peranan Amerika Serikat, bersesuaian satu sama lain, artinya memiliki dampak positif dan negatif globalisasi. Joseph Nye seorang mantan asisten Menteri Pertahan Amerika Serikat, telah menguraikan panjang lebar mengenai globalisasi dan dampak globalisasi dalam hubungan peranan Amerika Serikat pada level Internasional. Beliau mengatakan bahwa Pengertian Globalisasi adalah pertumbuhan jaringan di seluruh dunia yang saling ketergantungan, yang dianggapnya setua sejarah umat manusia. Perkembangan globalisasi sering disamakan dengan perkembangan yang disebut “Amerikanisasi”, suatu sebutan yang kurang tepat menurut Nye dan terlalu menyederhanakan masalahnya. Globalisasi bagi Amerika Serikat telah mendorong didahulukannya penggunaan soft power dari hard power di dalam hubungan internasional.
 
Globalisasi ekonomi dunia saat ini tidak hanya berdampak negatif, tetapi ternyata berdampak positif bagi negara Uni-Eropa dan Amerika Serikat. Namun, bersamaan dengan dampak positif globalisasi tersebut, ketimpangan internasional juga tidak surut terutama di negara berkembang dan bagian dunia lainnya seperti Cina. Atas pertimbangan ini, Nya Jr menegaskan bahwa diperlukan jaringan pengaman (safety net), dan tanpa jaringan pengaman tersebut maka akan timbul resistensi politik terhadap globalisasi.
 
Sekian pembahasan mengenai latar belakang globalisasi, pengertian globalisasi dan dampak globalisasi baik itu dampak positif globalisasi maupun dampak negatif globalisai, semoga tulisan saya mengenai latar belakang globalisasi, pengertian globalisasi dan dampak globalisasi baik itu dampak positif globalisasi maupun dampak negatif globalisasi dapat bermanfaat.
 

Sumber : Buku dalam Penulisan Latar belakang Globalisasi, Pengertian Globalisasi dan Dampak Globalisais baik itu Dampak Positif Globalisasi maupun Dampak Negatif Globalisasi :

– Romli Atmasasmita, 2010. Globalisasi & Kejahatan Bisnis. Yang Menerbitkan Kencana Prenada Media : Jakarta.
Gambar Pengertian Globalisasi, Latar Belakang Globalisasi dan Dampak Globalisasi

Gambar Pengertian Globalisasi, Latar Belakang Globalisasi dan Dampak Globalisasi

 
Pengertian, Latar belakang dan Dampak Globalisasi | utsman ali |